Register Login
  1. Peresmian instalai Sawunggaling

    Peresmian instalai Sawunggaling Peresmian instalai Sawunggaling
  2. Didi Budiardjo diapit oleh CEO Senayan City dan Chief Editor Harper's Bazaar Indonesia

    Didi Budiardjo diapit oleh CEO Senayan City dan Chief Editor Harper's Bazaar Indonesia Didi Budiardjo diapit oleh CEO Senayan City dan Chief Editor Harper's Bazaar Indonesia

SAWUNGGALING Persembahan 25 Tahun Didi Budiardjo Berkarya

“SAWUNGGALING” mendapatkan kehormatan sebagai bagian terakhir dari trilogy perayaan 25 tahun Didi Budiardjo berkarya didunia Mode Indonesia. Bertempat di Senayan City, Jakarta, Sawunggaling turut meramaikan Fation Nation 2015 yangdigelar mulai 9 – 18 April 2015.

Sawunggaling adalah perlambangan kemenangan, yang senantiasa memperbaharui diri, sama seperti fashion yang selalu berevolusi. Pola batik Sawunggaling lahir setelah kemerdekaaan Indonesia melalui tangan Go Tik Swan (KRT Hardjonegoro). Presiden Soekarno meminta beliau untuk menciptakan batik Indonesia atau juga dikenal sebagai batik Republik.

Konon sawunggaling diciptakan berdasarkan dua regalia Raja-raja Jawa yang berwujud Sawung (ayam jantan) dan Galing (merak jantan). Suatu saat Go Tik Swan secara tidak sengaja melihat corak burung pada kain prada yang dikenakan Raja Kaarang Asem, Bali, Gusti Jelantik.

Terinspirasi dengan konsep regalia Raja Jawa, konsep spiritual sabung ayam, dan corak Gusti Jelantik, Go Tik Swan menceritakan idenya kepada Ngabehi Atmosupomo, seorang Empu penatah wayang, sehingga lahirlah pola Sawunggaling.

Instalasi fashion ini didasari oleh pemikiran pengembangan motif batik yang adilihung. Motif batik ini dianggap Didi sudah lama sekali “diam” tidak bergerak. Dan sebuah kebudayaan akan survive apabila dapat ber-evolusi sesuai jamannya.

Didi memilih untuk menggali kembali batik Sawunggaling agar dimaknai oleh masyarakat dan dilihat dengan sudut pandang dan bentuk yang berbeda, menginspirasi masyarakat untuk kembali mengingat kekuatan budaya Nusantara.

Pameran ini merupakan karya nunggak semi Didi Budiardjo, istilah ini sebagaimana menggambarkan berseminya tanaman dari tunggak atau bagian yang tersisa dari tanaman lama, seperti suatu proses perubahan yang menghasilkan inovasi tapi bertumbuh dari sisa-sisa yang lama sudah melapuk, sebagai wujud kecintaan terhadap budaya Nusantara, dengan Felix Tjahyadi sebagai artistik. (Angga W/geDoor)



12 April 2015 - 09:30:57 WIB
Foto : Angga W.
Dibaca : 1568

SHARE