Register Login

Alas Kaki Jadul

Alas kaki atau kasut lebih dikenal dan dapat dibagi dalam dua macam yakni sepatu dan sandal yang dipakai untuk melindungi kaki terutama bagian telapak kaki. Alas kaki melindungi kaki agar tidak cedera dari kondisi lingkungan seperti permukaan tanah yang berbatu-batu, berair, udara panas, maupun dingin. Namun seiring kemajuan jaman yang saling menggusur trend dari satu waktu ke waktu lainnya, sepatu maupun sandal makin hari makin variatif dari segi desain sampai bahan baku yang semakin diperhatikan kualitasnya.

Mode memang anehbentuknya bisa dianalogikan seperti lingkaran, mode tahun 70-an tergusur oleh tahun 80-an begitu seterusnya namun di tahun 2000-an mulai muncul kembali style gaya 70 dan 80-an. Contohnya saja sepatu yang digemari remaja sekarang ini yakni salah satunya sepatu supra, sepatu ini amat tenar digunakan oleh musisi band Rock, Punk maupun Metal ditahun 80-an. Dibawah ini ada beberapa macam alas kaki berupa sandal maupun sepatu yang akan membuat kita bernostalgia kembali kebeberpa puluh tahun kebelakang. Sandal Lily sandal kakek-kakek dulu sebutannya, memang sandal ini identik dengan orang tua namun bukan berarti anak muda di kala itu tidak bayak yang memakainya.

Ada dua model yang saja ketahui dari sandal jenis ini, yakni jepit dan selop. Sandal ini lebih dikenal dengan sebutan sandal Lily, dan memang mereknya dan kita tahu, banyak jenis barang yang dalam perkembangannya orang kemudian menyebutnya dengan merk barang itu sendiri.
Sepatu Capung (Dragonfly) Di tahun 80-an sepertinya hampir semua anak-anak sekolah pernah memakai sepatu yang sama yakni sepatu capung dengan merek Dragonfly, modelnya ada yang pendek berwarna putih dengan garis biru dan merah ditengah-tengah sepatu, dan ada juga yang panjang berwarna hitam hampir mirip seperti sepatu Converse sekarang ini. Kalau ga salah ingat saya pernah membeli sepatu capung ini dengan harga Rp 15.000-an.

Sandal Bandol, sebutannya sandal Bandol kepanjangan dari ban bodol (ban bekas) alias bandol, kini diproduksi dengan modifikasi slempang dan alas berbahan karet sintetis berwarna warni. Sandal jenis ini banyak dicari orang yang mengutamakan daya tahan pemakaiannya. Sandal bandol memang lebih populer di daerah pedesaan. Maklum, di sana, masih banyak jalan berbatu, sehingga butuh alas kaki yang sangat kuat. Namun di kot-kota besar seperti Jakarta juga banyak peminatnya, karena itu banyak pedagang yang pada waktu itu menawarkan sampai ke gang-gang rumah kita kan.

Sepatu Dokmar lumayan terkenal pada era 90-an banyak remaja terutama anak sekolah sampai mahasiswa menyukai sepatu yang menjadi trend saat itu. Dokmar adalah singkatan dari Dokter Martin, sampai sekarang pun kurang tahu apakah nama tersebut nama orang atau hanya brand saja. Lucunya lagi dulu sepatu dokmar yang buat anak-anak mempunyai kelebihan ada lampu dibagian tapak sepatu yang akan menyala secara otomatis bila kaki menyentuh tanah, unik kan jadi kalau dipakai pada malam hari pasti jadi pusat perhatian karena nyala lampunya.


Sandal Bakiak Bakiak adalah salah satu sandal yang paling unik. Dibuat dari kayu, konon sejak dulu sudah populer di negara-negara Eropa, seperti Belanda, Belgium, Denmark dan Sweden. Memang era penjajahan Belanda dan berlanjut ke Jepang yang lebih mempopulerkan alas kaki ini. Bakiak Indonesia sama dengan bakiak Eropa memang diperuntukkan untuk kelas bawah. Bakiak ala Indonesia, dibuat dari kayu ringan dan diberi tali dari bekas ban untuk tempat jari kaki. Sederhana dan murah sekali. Sepertinya sewaktu saya kecil dulu sering melihat sendal bakiak ini didalam kamar mandi karena sering digunakan untuk kegiatan didalam kamar mandi karena selain nyaman dipakai, bakiak mudah dipelihara, tahan air, tidak bau, tidak licin, pemeliharaannya sangat mudah. Bakiak di Indonesia boleh dikata sudah punah. Kalau kata anak muda sekarang sudah gak "in" lagi, namun kalau kita amati baik-baik ditahun sekarang ini banyak juga melihat sendal yang berbahan baku kayu sebagai tapaknya dan tinggi juga kan, apakah itu bisa dikatakan bakiak jenis batu, semua tergantung anda yang menilainya. (Roy)



03 November 2011 - 18:21:30 WIB

Dibaca : 3627

SHARE